KOTAMOBAGU -Setahun pasca-pelantikan Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Stevanus Komaling (YSK), tabir di balik kemenangan fenomenal pasangan YSK-Victory di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR) kembali tersingkap.
Bukan sekadar faktor keberuntungan, kemenangan tersebut rupanya merupakan hasil dari operasi politik yang “mahal” dan terukur dari sosok pengusaha filantropis, Revan Saputra Bangsawan (RSB).
RSB bukan sekadar pendukung biasa. Ia adalah motor penggerak utama yang melakukan penetrasi wilayah dengan cara-cara yang hampir mustahil dilakukan orang lain. Laporan lapangan mencatat RSB bergerak secara mandiri dengan kekuatan logistik yang fantastis yaitu Operasi “Reklame Berjalan” (Mengerahkan belasan armada kendaraan yang dibranding total untuk mengepung kesadaran publik hingga ke pelosok desa), Diplomasi Barter Politik (Menyelaraskan dukungan di tingkat kabupaten/kota se-BMR demi memastikan suara mengalir linier ke arah YSK), Kemandirian Finansial Mutlak (Seluruh biaya taktis tim pemenangan di wilayah tersebut dilaporkan bersumber dari pendanaan pribadi RSB).
Saya saksi mata bagaimana RSB menanggung seluruh biaya operasional. Fokusnya hanya satu: kemenangan mutlak bagi YSK,” tegas Rukminto Paputungan, tokoh masyarakat Bolsel.
Kini, saat kursi kekuasaan telah diduduki, muncul upaya de-legitimasi dari pihak-pihak tertentu yang mencoba menjauhkan RSB dari lingkaran Gubernur. Namun, loyalis RSB, Heriyanto Pontoh, membongkar bukti loyalitas ekstrem yang selama ini tertutup rapat.
Demi menjaga kehormatan YSK di atas rival kuat seperti Steven Kandow dan Elly Lasut, RSB dikabarkan pernah melakukan taruhan politik senilai Rp3 miliar melawan pengusaha tambang besar.
Narasi bahwa RSB tidak berjuang adalah pernyataan yang ahistoris dan tidak masuk akal. Loyalitas finansial dan taktisnya adalah fakta keras yang tidak bisa dihapus oleh oknum mana pun!” ujar Pontoh dengan nada tinggi.
Ketegasan RSB di BMR kini menjadi ujian bagi profesionalisme Gubernur YSK. Di tengah kepungan manuver pihak-pihak yang “baru merapat” pasca-kemenangan, publik bertanya: apakah Gubernur akan tetap menjaga integritas sejarah perjuangan timnya, atau terpengaruh oleh upaya marginalisasi terhadap suksesor utamanya?
Stabilitas politik internal Sulawesi Utara kini bergantung pada bagaimana seorang pemimpin menghargai loyalitas yang telah teruji di tengah badai Pilkada.(***).