Mantan Pj Sangadi Paret Tuding PT.ASA Anak Tirikan Putra Daerah di Lingkar Tambang

0

BOLTIM – Proses rekrutmen tenaga kerja di PT Arafura Surya Alam (ASA), perusahaan pertambangan emas yang beroperasi di wilayah Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), menuai sorotan tajam.

Mantan Penjabat (Pj) Sangadi (Kepala Desa) Paret, Arga Karian, secara gamblang mengkritik pihak manajemen perusahaan yang dinilai tidak berkomitmen penuh dalam memprioritaskan masyarakat lokal, khususnya warga Desa Paret yang berada di wilayah lingkar tambang.

Menurut Arga, praktik perekrutan di PT ASA diduga kuat sarat dengan praktik “titipan orang dalam”. Lebih memprihatinkan lagi, sejumlah pekerja yang diakomodir justru merupakan warga dari luar daerah Boltim yang secara instan mengantongi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Desa Paret.

“Ada pekerja yang berasal dari Toraja dan Minahasa, tapi anehnya mereka memegang KTP Desa Paret. Padahal secara fakta, mereka sama sekali tidak berdomisili di desa kami,” ungkap Arga kepada media.

Tak hanya masalah manipulasi domisili, Arga juga membeberkan adanya ketimpangan terkait standar kualifikasi pengalaman kerja yang diterapkan oleh pihak perusahaan. Ia menilai ada tebang pilih yang sangat merugikan putra-putri daerah. Arga mengungkapkan adanya beberapa pekerja asal Pulau Jawa yang belum memiliki pengalaman kerja, namun langsung diterima bekerja di PT ASA. Sebaliknya, sejumlah warga asli Desa Paret yang memiliki rekam jejak pengalaman kerja di industri pertambangan, justru ditolak oleh pihak manajemen.

Melihat ketimpangan yang terjadi, Arga Karian meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boltim untuk tidak tinggal diam dan segera mengambil tindakan tegas demi melindungi hak-hak masyarakat lokal.

“Saya meminta pemerintah daerah untuk serius menyikapi masalah ini. Segera lakukan investigasi mendalam terkait keabsahan KTP Boltim yang dikantongi oleh para pekerja di PT ASA,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah dapat menjadi benteng bagi masyarakat agar tidak menjadi penonton di tanah sendiri.

“Jangan sampai putra-putri daerah dianak-tirikan oleh kehadiran investasi di wilayah mereka sendiri,” pungkas Arga.

Leave A Reply

Your email address will not be published.