BOLTIM – Di tengah momen Idul Adha, keluarga Rahman Salehe kembali menunjukkan bahwa nilai toleransi dan kebersamaan dapat tumbuh subur di tengah perbedaan. Selain menyalurkan daging kurban secara universal tanpa memandang agama, ada satu hal yang lebih menarik dari kegiatan tahun ini: ketua panitia penyembelihan hewan kurban dihari kedua ini justru dipercayakan kepada seorang warga dari kalangan non-Muslim.
Kegiatan penyembelihan sapi kurban dilaksanakan di kediaman keluarga Rahman Salehe di Desa Bulawan II, Kecamatan Kotabunan, mulai Rabu, 27 Mei 2026. Namun, yang menjadi sorotan bukan hanya jumlah hewan kurban yang dipotong atau ribuan kilogram daging yang dibagikan, melainkan siapa yang memimpin pelaksanaannya. Rahman Salehe dengan bangga memperkenalkan Benny Lapod, warga asal Desa Paret Timur, sebagai ketua panitia penyembelihan kurban kali ini.
Pemilihan Benny Lapod bukanlah keputusan sembarangan. Rahman Salehe menyebutkan bahwa langkah ini sengaja diambil sebagai bentuk nyata dari sikap toleransi antar umat beragama yang selama ini terjalin di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. “Di sini ada juga dari kalangan non-Muslim yang tergabung dalam panitia pelaksana,” ujar Rahman dengan antusias. Bagi keluarganya, kurban bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momentum untuk memperkuat hubungan sosial lintas keyakinan.
Benny Lapod sendiri mengaku tidak menyangka akan ditunjuk memimpin kegiatan keagamaan umat Muslim. Namun, karena keakrabannya dengan masyarakat sekitar dan kepercayaan yang diberikan keluarga Rahman Salehe, ia menyambut tawaran tersebut dengan tangan terbuka. “Saya memang kerap bergaul dan berkecimpung dengan masyarakat di sini, dan juga akhirnya ditunjuk oleh Pak Rahman, ya saya setuju,” tutur Benny.
Lebih dari sekadar setuju, Benny merasa bangga bisa terlibat langsung dalam pelaksanaan kurban bersama keluarga Rahman Salehe. Baginya, partisipasi ini adalah bukti bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk saling menghormati dan bekerja sama. “Saya senang terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan seperti ini,” ungkapnya. Benny bahkan berharap semangat toleransi yang terjalin di Boltim dapat terus berlangsung kondusif di masa mendatang.
Aksi nyata ini mencerminkan bahwa toleransi bukan hanya sekadar kata-kata indah, melainkan praktik konkret dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah isu-isu sensitivitas keagamaan yang kerap memanas di berbagai daerah, keluarga Rahman Salehe memilih jalan berbeda: mengajak, bukan memisahkan. Menyatukan, bukan membedakan. Kepercayaan yang diberikan kepada Benny Lapod sebagai ketua panitia menunjukkan bahwa saling menghargai dapat dilakukan di level manajemen, bukan hanya pada penerima manfaat.
Pelajaran dari kegiatan ini sangat relevan bagi masyarakat Indonesia yang plural. Toleransi antar umat beragama tidak hanya ditunjukkan melalui dialog formal atau deklarasi bersama, tetapi juga melalui tindakan sederhana seperti mempercayakan tugas penting dalam ritual keagamaan kepada saudara dari keyakinan berbeda. Sikap Rahman Salehe dan respons positif Benny Lapod menjadi cerminan bahwa persaudaraan sejati mampu menembus batas-batas ritual dan keyakinan.
Kegiatan penyembelihan kurban yang dipimpin oleh ketua panitia non-Muslim ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain di seluruh Indonesia. Bahwa perbedaan adalah anugerah, bukan ancaman. Dan bahwa setiap momen keagamaan bisa dijadikan wadah untuk mempererat tali silaturahmi, bukan memperlebar jurang pemisahan. (***)